Reversible computing merupakan salah satu karakteristik dari komputasi kuantum. Oleh karena itu komputasi kuantum memiliki kelebihan dibandingkan dengan komputasi biasa. Reversible computing dalam komputasi kuantum dapat dilihat pada quantum circuit yang merupakan rangkaian dari beberapa quantum gate. Pada penelitian ini, quantum circuit dirancang sebagai metode baru dalam penyandian informasi yang disebut dengan Quantum Circuit Chiper (QCC). Ada 4 model QCC yang diusulkan yaitu : QCC dengan pemrosesan karakter per karakter, QCC dengan pemrosesan N karakter, QCC dengan rotation dan QCC dengan kombinasi metode kriptografi lainnya. Hasil pengujian dari beberapa model QCC yang diusulkan bahwa QCC dapat diimplentasikan dengan baik pada proses enkripsi maupun dekripsi.
Reversible computing merupakan salah satu karakteristik dari komputasi kuantum. Oleh karena itu komputasi kuantum memiliki kelebihan dibandingkan dengan komputasi biasa. Reversible computing dalam komputasi kuantum dapat dilihat pada quantum circuit yang merupakan rangkaian dari beberapa quantum gate. Pada penelitian ini, quantum circuit dirancang sebagai metode baru dalam penyandian informasi yang disebut dengan Quantum Circuit Chiper (QCC). Ada 4 model QCC yang diusulkan yaitu : QCC dengan pemrosesan karakter per karakter, QCC dengan pemrosesan N karakter, QCC dengan rotation dan QCC dengan kombinasi metode kriptografi lainnya. Hasil pengujian dari beberapa model QCC yang diusulkan bahwa QCC dapat diimplentasikan dengan baik pada proses enkripsi maupun dekripsi.
Perkembangan tekonologi komputasi kuantum membawa tantangan besar bagi sistem keamanan informasi konvensional yang selama ini mengandalkan kompleksitas matematis, seperti RSA dan ECC. Munculnya algoritma kuantum seperti Shor’s algorithm berpotensi mengancam eksistensi metode kriptografi klasik. Dalam konteks ini, kriptografi kuantum hadir sebagai solusi inovatif dengan memanfaatkan prinsip-prinsip mekanika kuantum untuk menjamin keamanan data secara teoritis, bahkan terhadap penyerang dengan daya komputasi tak terbatas. Penelitian ini membahas implementasi teknologi Quantum Cryptography, khususnya protokol BB84 yang telah ditingkatkan, sebagai metode distribusi kunci rahasia yang aman pada jaringan komputer. Fokus utama adalah pada keamanan pertukaran kunci Quantum Key Distribution (QKD) serta efisiensi algoritma dalam lingkungan jaringan dengan keterbatasan sumber daya. Selain itu, penelitian ini juga meninjau penerapan kriptografi kuantum dalam berbagai konteks jaringan masa depan, termasuk Wireless Body Sensor Networks (WBSN), jaringan 5G, dan post-quantum networks, serta potensi integrasinya dalam infrastruktur keamanan digital di masa depan. Hasil pengujian Avalanche Effect, Hash Generation Time, dan Hash Verification Time menunjukkan bahwa kriptografi kuantum mampu memberikan performa keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan metode kriptografi populer seperti RSA dan AES
Adiabatic Quantum Computing (AQC) adalah sebuah model yang digunakan untuk mengimplementasikan Quantum Computing dengan pendekatan adiabatik.Dalam penerapan AQC, sebuah Hamiltonian bergantung waktu dievolusi dari Hamiltonian awal ke Hamiltonian akhir yang mengkodekan solusi. Evolusi ini dapat dilakukan melalui suatu fungsi interpolasi. Telah dilakukan kajian untuk mendapatkan fungsi interpolasi yang mengoptimalkan periode evolusi dengan menggunakan metode variasional. Sebagai hasilnya adalah untuk sebuah Hamiltonian yang dibentuk dari kombinasi linier dua state ortonormal, diperoleh fungsi interpolasi yang dinyatakan f(s) = 1 − g (s), dan g(s) merupakan sebarang fungsi yang memenuhi kondisi syarat batas. Demikian juga halnya jika Hamiltonian ditambahkan sebuah Hamiltonian ekstra pada saat evolusi sedang berlangsung. Pada penelitian ini dipilih sebuah Hamiltonian ekstra yang merupakan kombinasi linier
dari Hamiltonian akhir. Fungsi interpolasi dalam bentuk polinomial kubik dan kuartik juga dicobakan pada penelitian ini. Fungsi interpolasi ini digunakan untuk mengimplementasikan gerbang Hadamard. Hasil yang lebih baik diberikan oleh kombinasi antara skema penambahan Hamiltonian dan fungsi interpolasi kubik, jika dibandingkan dengan penambahan Hamiltonian dan menggunakan fungsi interpo
lasi kubik saja. Hasil yang baik ini juga diperlihatkan pada penerapan AQC model Ising. Pada penerapan model Ising, juga dicobakan Hamiltonian ekstra dari dari operator Pauli y. Algoritma Grover yang memberikan speed - up juga titinjau ulang,untuk kemudian diimplementasikan dengan AQC. Improvisasi AQC yang berevolusi secara lokal memberikan speed - up yang sama seperti algortima Grover.
Kata Kunci : Adiabatic Quantum Computing, metode variasional, Hamiltonian, fungsi interpolasi, gerbang Hadamard.
Komputasi kuantum melakukan perhitungan dengan menggunakan fenomena fisik dan prinsip mekanika kuantum untuk memecahkan masalah. Bentuk komputasi ini secara teoritis telah terbukti memberikan percepatan pada beberapa masalah pemrosesan modern. Perkembangan baru dalam teknologi kuantum mulai bermunculan, dan penerapan model pembelajaran untuk perangkat baru ini terus berkembang. Dengan banyak antisipasi pemanfaatan fenomena kuantum di bidang Machine Learning telah menjadi jelas. Penelitian ini mengembangkan model kerangka kerja perangkat lunak TensorFlow Quantum (TFQ) untuk tujuan machine learning. Kedua model yang dikembangkan memanfaatkan teknik pengkodean informasi dari pengkodean amplitudo untuk penyusunan keadaan dalam model pembelajaran kuantum. Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi kapasitas pengkodean amplitudo untuk menyediakan persiapan keadaan yang diperkaya dalam metode pembelajaran dan analisis mendalam tentang properti data yang memberikan wawasan tentang data pelatihan menggunakan Variational Quantum Classifier (VQC). Munculnya metode baru ini menimbulkan pertanyaan tentang cara terbaik menggunakan alat ini, tujuannya adalah untuk memberikan beberapa penjelasan ikhtisar untuk keadaan machine learning kuantum yang dapat diterapkan mengingat kendala perangkat yang sebenarnya. Hasil penelitian ini menunjukkan ada keuntungan yang jelas untuk menggunakan pengkodean amplitudo dibandingkan metode lain seperti ditunjukkan menggunakan jaringan saraf klasik kuantum hibrid di TFQ. Selain itu, ada beberapa langkah prapemrosesan yang dapat menghasilkan lebih banyak data kaya fitur saat menggunakan VQC, pada dasarnya teorema makan siang tidak gratis berlaku untuk metode pembelajaran kuantum seperti halnya dalam teknik klasik. Informasi meskipun dikodekan dalam bentuk kuantum tidak mengubah langkah-langkah penyiapan data tetapi melibatkan cara-cara baru untuk memahami dan mengapresiasi metode-metode baru ini. Pekerjaan masa depan di bidang ini akan membutuhkan perluasan ke dalam teknik klasifikasi multikelas yang cukup dikembangkan untuk dapat diterapkan dalam pekerjaan seperti ini.
Peran teknologi dalam pengembangan teknologi informasi (IT, information technology), sudah tidak diragukan lagi. Teknologi komputer merupakan salah satu teknologi yang paling cepat mengalami perkembangan dan kemajuan. Komputer yang nantinya layak untuk benar-benar disebut sebagai Komputer Super ini adalah Komputer Kuantum. Quantum Computer atau komputer kuantum memanfaatkan fenomena ‘aneh’ yang disebut sebagai superposisi. Komputer kuantum tidak menggunakan Bits tetapi QUBITS (Quantum Bits) dan komputer digital melakukan perhitungan secara linier, sedangkan komputer kuantum melakukan semua perhitungan secarabersamaan (simultan). Pada komputer kuantum juga terdapat beberapa gate seperti yang terdapat pada komputer konvensional yang berfungsi dalam pengaturan qubit. Saat ini perkembangan teknologi sudah menghasilkan komputer kuantum sampai 7 qubit, tetapi menurut penelitian dan analisa yang ada, dalam beberapa tahun mendatang teknologi komputer kuantum bisa mencapai 100 qubit.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai dampak komputasi kuantum terhadap perlindungan data akuntansi yang selama ini bergantung pada kriptografi konvensional seperti RSA dan ECC. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur yang mencakup jurnal ilmiah, white paper, dan standar internasional yang relevan dengan post-quantum cryptography. Analisis yang dilakukan mengungkapkan bahwa algoritma kuantum, seperti Shor dan Grover, dapat melemahkan kekuatan enkripsi digital yang digunakan dalam sistem akuntansi saat ini, yang berisiko merusak integritas serta kerahasiaan data akuntansi. Sebagai solusi terhadap ancaman tersebut, disarankan untuk menerapkan kriptografi pasca-kuantum berbasis lattice dan hash, serta mengintegrasikan quantum blockchain untuk memastikan perlindungan data dalam jangka panjang. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kesiapan organisasi akuntansi dan lembaga regulator dalam menghadapi potensi risiko keamanan yang dapat muncul akibat kemajuan pesat dalam teknologi komputasi kuantum.
Perkembangan teknologi komputasi kuantum menghadirkan ancaman signifikan terhadap sistem kriptografi konvensional, khususnya pada algoritma seperti RSA dan Elliptic Curve Cryptography (ECC). Untuk menjawab tantangan ini, penelitian ini mengembangkan sebuah aplikasi tanda tangan digital (digital signature) berbasis ECC yang diperkuat dengan Quantum Random Number Generator (QRNG) guna meningkatkan autentikasi pesan terhadap potensi serangan kuantum. Berbeda dengan Pseudorandom Number Generator (PRNG), QRNG menghasilkan bilangan acak sejati berdasarkan fenomena mekanika kuantum, sehingga memberikan kualitas keacakan yang lebih tinggi pada proses pembuatan kunci kriptografi. Penelitian ini mencakup pembuatan kunci ECC menggunakan QRNG dan PRNG, perhitungan entropi untuk mengukur kualitas keacakan, implementasi proses penandatanganan pesan menggunakan kunci privat ECC, serta proses verifikasi tanda tangan menggunakan kunci publik QRNG. Evaluasi dilakukan melalui simulasi dan pengujian aplikasi berbasis antarmuka grafis untuk membandingkan performa QRNG dan PRNG dalam skenario autentikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi QRNG dalam proses digital signature dapat meningkatkan keamanan dan integritas pesan secara signifikan, serta menjadi landasan penting menuju sistem kriptografi yang tahan terhadap serangan kuantum.