Challenges
Datasets
Workspaces
Papers
Discussions
Leaderboard
Log inSign up
Challenges
Datasets
Workspaces
Papers
Discussions
Leaderboard
Blog
Job Board
Q3AS

© 2026 Aqora Quantum S.A.S.

TermsPrivacyLegal Notice

Jurnal Informatika dan Teknik Elektro Terapan

TINJAUAN PERKEMBANGAN KOMPUTASI KUANTUM PADA PLATFORM CLOUD: PELUANG, TANTANGAN, DAN ARAH MASA DEPAN

Heru Triana, Arip Solehudin, Aditya Rizky Darmawan -

Published Jan 17, 2026• 0 citations
Publisher

Abstract

Komputasi kuantum berbasis cloud merupakan paradigma baru yang menggabungkan sumber daya kuantum dengan infrastruktur cloud klasik, memungkinkan akses luas tanpa kebutuhan investasi besar pada perangkat keras. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengidentifikasi dan mensintesis dua studi utama terkait integrasi dan perkembangan teknologi komputasi kuantum dalam lingkungan cloud computing. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: analisis konten, perbandingan tematik, dan sintesis kritis dengan fokus pada arsitektur, kinerja, keamanan, serta arah masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur hibrida kuantum-klasik berbasis kontainer dan orkestrasi terdistribusi menjadi komponen kunci dalam pengembangan quantum cloud. Model Quantum-as-a-Service (QaaS) berpotensi menurunkan hambatan adopsi, terutama pada aplikasi seperti simulasi material, optimisasi kombinatorial, dan kriptografi kuantum. Namun, tantangan signifikan masih ada pada keterbatasan perangkat keras, kompleksitas integrasi sistem, serta kekurangan sumber daya manusia. Arah pengembangan ke depan mencakup standarisasi lintas vendor, co-design algoritma dan perangkat keras, serta transisi menuju kriptografi pasca-kuantum. Studi ini memberikan pemahaman menyeluruh tentang potensi, kendala, dan arah riset lanjutan dalam quantum cloud computing.

DOI
10.23960/jitet.v14i1.8363

Related papers

DESAIN INOVATIF SISTEM KEAMANAN SIBER BERBASIS KECERDASAN BUATAN MENGHADAPI TANTANGAN KOMPUTASI KUANTUM

Maria Atik Sunarti Ekowati, Sri Wening

Perkembangan komputasi kuantum memberikan potensi besar dalam bidang teknologi informasi, namun juga menimbulkan ancaman signifikan terhadap sistem keamanan siber yang ada saat ini. Sebagai respons terhadap tantangan ini, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem keamanan siber inovatif yang berbasis kecerdasan buatan (AI) guna melawan ancaman komputasi kuantum. Metode yang digunakan melibatkan penerapan algoritma AI untuk mendeteksi dan merespons serangan kuantum secara dinamis, serta integrasi kriptografi pasca-kuantum untuk meningkatkan ketahanan sistem terhadap potensi peretasan. Penelitian ini juga mengeksplorasi penggunaan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi pola ancaman dan memperkuat sistem secara otomatis seiring waktu. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu mendeteksi ancaman kuantum dengan tingkat akurasi yang tinggi dan menawarkan solusi yang dapat diimplementasikan pada berbagai platform siber. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah kemajuan signifikan dalam pengembangan sistem keamanan yang lebih tangguh dan adaptif terhadap evolusi komputasi kuantum, membuka jalan bagi terciptanya infrastruktur digital yang lebih aman di masa depan

JURNAL ILMIAH SAINS TEKNOLOGI DAN INFORMASI•Apr 3, 2025•0 citations

Studi Komparasi Teknik Efisiensi Penggunaan Energi pada Komputasi Kuantum dan Pemanfaatan Teknologi AI

Jarwo

Paradigma komputasi saat ini menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan skalabilitas daya dan efisiensi algoritma pada sistem klasik, di mana konsumsi energi superkomputer (HPC) meningkat secara eksponensial seiring kompleksitas masalah. Komputasi kuantum hadir sebagai solusi futuristik dengan efisiensi algoritma radikal, namun menghadapi paradoks inefisiensi termal pada sistem pendukung kriogenik. Penelitian ini merupakan studi komparasi yang mengevaluasi berbagai teknik efisiensi energi, mulai dari optimalisasi sistem pendingin hingga arsitektur perangkat keras. Hasil studi menunjukkan bahwa inovasi pada kabel koaksial superkonduktor dan kontrol optik dapat mengurangi beban panas secara drastis. Selain itu, penerapan algoritma hybrid seperti VQE dan QAOA serta peningkatan kesetiaan gerbang (gate fidelity) terbukti mampu menekan waktu operasional dan jumlah pengulangan komputasi, yang secara langsung meningkatkan efisiensi energi sistem. Studi ini menyimpulkan bahwa diversifikasi arsitektur berbasis fotonik dan ion terperangkap menawarkan jalur yang lebih berkelanjutan bagi integrasi teknologi kuantum dan AI di masa depan.

Jurnal Aplikasi Sistem dan Teknik Informatika Pomosda (JASTIP)•Apr 14, 2026•0 citations

DAMPAK KOMPUTASI KUANTUM TERHADAP KEAMANAN BLOCKCHAIN: TANTANGAN DAN SOLUSI

Andreas Michael Adam, Sofyan Andika Prasetyo, Adi Nur Septiadi

Teknologi blockchain telah muncul sebagai kekuatan transformatif dalam keamanan digital, menyediakan sistem terdesentralisasi dan aman untuk transaksi cryptocurrency, kontrak pintar, serta integritas data. Namun, hadirnya komputasi kuantum menimbulkan tantangan signifikan terhadap fondasi kriptografi blockchain. Mekanisme enkripsi klasik, termasuk RSA dan elliptic curve cryptography (ECC), rentan terhadap algoritma kuantum seperti Shor’s Algorithm, yang mampu memecahkan enkripsi kunci publik, dan Grover’s Algorithm, yang dapat melemahkan fungsi hash. Studi ini bertujuan untuk menilai dampak komputasi kuantum terhadap keamanan blockchain, membandingkan metode kriptografi klasik dengan metode pasca-kuantum, serta mengeksplorasi solusi untuk sistem blockchain yang tahan kuantum. Kami menggunakan kerangka analisis komparatif dengan mengevaluasi algoritma kriptografi klasik terhadap alternatif kriptografi tahan kuantum, seperti kriptografi berbasis kisi (lattice-based cryptography), algoritma berbasis hash (SPHINCS+), dan enkripsi berbasis kode. Temuan kami menunjukkan bahwa meskipun komputasi kuantum mengancam keamanan blockchain saat ini, metode kriptografi tahan kuantum dapat mengurangi risiko tersebut. Transisi menuju kriptografi pasca-kuantum sangat penting untuk mengamankan implementasi blockchain di masa depan, meskipun langkah ini menghadirkan tantangan dalam bentuk beban komputasi tambahan dan kebutuhan pembaruan jaringan. Studi ini menyimpulkan bahwa adopsi proaktif terhadap protokol tahan kuantum diperlukan untuk memastikan keberlangsungan jangka panjang teknologi blockchain di era pasca-kuantum

Jurnal Intelek Insan Cendikia•Sep 9, 2025•0 citations

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI QUANTUM CRYPTOGRAPHY UNTUK MENINGKATKAN KEAMANAN DALAM JARINGAN KOMPUTER DAN KEAMANAN KOMPUTER

Chaidir Chalaf Islamy, Rahmadani Suryanto Dwi Putra

Perkembangan tekonologi komputasi kuantum membawa tantangan besar bagi sistem keamanan informasi konvensional yang selama ini mengandalkan kompleksitas matematis, seperti RSA dan ECC. Munculnya algoritma kuantum seperti Shor’s algorithm berpotensi mengancam eksistensi metode kriptografi klasik. Dalam konteks ini, kriptografi kuantum hadir sebagai solusi inovatif dengan memanfaatkan prinsip-prinsip mekanika kuantum untuk menjamin keamanan data secara teoritis, bahkan terhadap penyerang dengan daya komputasi tak terbatas. Penelitian ini membahas implementasi teknologi Quantum Cryptography, khususnya protokol BB84 yang telah ditingkatkan, sebagai metode distribusi kunci rahasia yang aman pada jaringan komputer. Fokus utama adalah pada keamanan pertukaran kunci Quantum Key Distribution (QKD) serta efisiensi algoritma dalam lingkungan jaringan dengan keterbatasan sumber daya. Selain itu, penelitian ini juga meninjau penerapan kriptografi kuantum dalam berbagai konteks jaringan masa depan, termasuk Wireless Body Sensor Networks (WBSN), jaringan 5G, dan post-quantum networks, serta potensi integrasinya dalam infrastruktur keamanan digital di masa depan. Hasil pengujian Avalanche Effect, Hash Generation Time, dan Hash Verification Time menunjukkan bahwa kriptografi kuantum mampu memberikan performa keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan metode kriptografi populer seperti RSA dan AES

Jurnal Mnemonic•Mar 16, 2026•0 citations

Inovasi Dompet Digital Berbasis Kriptografi Kuantum untuk Keamanan Optimal

Muharrom Fatihaturrizqi

Perkembangan dompet digital sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital global menghadirkan tantangan serius dalam hal keamanan, terutama dengan kemunculan komputer kuantum yang berpotensi menembus sistem enkripsi tradisional. Artikel ini mengkaji inovasi dompet digital berbasis kriptografi kuantum sebagai solusi strategis untuk mengantisipasi ancaman siber di masa depan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan metode studi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi dua pilar utama kriptografi kuantum, yaitu Quantum Key Distribution (QKD) dan Post-Quantum Cryptography (PQC), serta bagaimana keduanya diterapkan dalam sistem dompet digital hybrid. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi ini mampu meningkatkan keamanan hingga 99,8% dibandingkan algoritma konvensional, serta memberikan jaminan perlindungan jangka panjang terhadap data pengguna. Meskipun demikian, adopsi teknologi ini menghadapi tantangan berupa biaya tinggi, keterbatasan regulasi, dan kekurangan sumber daya manusia yang terampil. Di sisi lain, implementasi dompet kuantum diperkirakan akan memperkuat stabilitas ekonomi digital global, mendorong pertumbuhan pasar teknologi kuantum, serta membuka jutaan lapangan kerja baru. Temuan ini menggaris bawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat integrasi kriptografi kuantum dalam sistem keuangan digital secara luas.

Bersatu Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika•Aug 9, 2025•0 citations

Kerja Kriptografi Pasca-Kuantum untuk Jaringan Internet of Things (IoT)

Erlangga Ramadhan Fauzi, Fitria Nur Aulia

Era komputasi kuantum membawa ancaman signifikan terhadap sistem kriptografi konvensional yang saat ini banyak digunakan untuk mengamankan jaringan Internet of Things (IoT), seperti RSA dan ECC. Algoritma Shor memungkinkan komputer kuantum memecahkan permasalahan matematis yang mendasari algoritma tersebut dalam waktu singkat, sehingga kerahasiaan dan integritas data pada perangkat IoT menjadi rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi dan kinerja Kriptografi Pasca-Kuantum (PQC) sebagai solusi pengamanan untuk jaringan IoT yang memiliki keterbatasan sumber daya, seperti daya komputasi, memori, dan konsumsi energi.Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi studi literatur terhadap algoritma PQC yang menjadi finalis dalam kompetisi NIST, khususnya algoritma berbasis lattice-based cryptography (seperti CRYSTALS-Kyber dan CRYSTALS-Dilithium) yang dinilai efisien. Analisis dilakukan dengan membandingkan parameter keamanan, ukuran kunci, ukuran ciphertext, serta kecepatan komputasi dari algoritma PQC terhadap algoritma kriptografi konvensional dalam simulasi lingkungan IoT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun algoritma PQC memerlukan ukuran kunci dan overhead komunikasi yang lebih besar dibandingkan algoritma konvensional, beberapa kandidat seperti Kyber menunjukkan kinerja yang cukup kompetitif dan memungkinkan untuk diimplementasikan pada perangkat IoT dengan kelas menengah ke atas. Namun, untuk perangkat IoT dengan sumber daya sangat terbatas (constrained devices), masih diperlukan optimalisasi lebih lanjut, baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak.Penelitian ini menyimpulkan bahwa transisi menuju kriptografi pasca-kuantum untuk IoT adalah sebuah keniscayaan. Rekomendasi yang diberikan mencakup perlunya adopsi standar PQC secara bertahap serta pengembangan protokol hibrida yang menggabungkan kriptografi klasik dan PQC selama masa transisi, guna memastikan keberlanjutan keamanan jaringan IoT di masa depan.

MUARA KOMPUTER Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer & Elektronika•Apr 30, 2026•0 citations
Komputasi kuantum berbasis cloud merupakan paradigma baru yang menggabungkan sumber daya kuantum dengan infrastruktur cloud klasik, memungkinkan akses luas tanpa kebutuhan investasi besar pada perangkat keras. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengidentifikasi dan mensintesis dua studi utama terkait integrasi dan perkembangan teknologi komputasi kuantum dalam lingkungan cloud computing. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: analisis konten, perbandingan tematik, dan sintesis kritis dengan fokus pada arsitektur, kinerja, keamanan, serta arah masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur hibrida kuantum-klasik berbasis kontainer dan orkestrasi terdistribusi menjadi komponen kunci dalam pengembangan quantum cloud. Model Quantum-as-a-Service (QaaS) berpotensi menurunkan hambatan adopsi, terutama pada aplikasi seperti simulasi material, optimisasi kombinatorial, dan kriptografi kuantum. Namun, tantangan signifikan masih ada pada keterbatasan perangkat keras, kompleksitas integrasi sistem, serta kekurangan sumber daya manusia. Arah pengembangan ke depan mencakup standarisasi lintas vendor, co-design algoritma dan perangkat keras, serta transisi menuju kriptografi pasca-kuantum. Studi ini memberikan pemahaman menyeluruh tentang potensi, kendala, dan arah riset lanjutan dalam quantum cloud computing.
Perkembangan komputasi kuantum memberikan potensi besar dalam bidang teknologi informasi, namun juga menimbulkan ancaman signifikan terhadap sistem keamanan siber yang ada saat ini. Sebagai respons terhadap tantangan ini, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem keamanan siber inovatif yang berbasis kecerdasan buatan (AI) guna melawan ancaman komputasi kuantum. Metode yang digunakan melibatkan penerapan algoritma AI untuk mendeteksi dan merespons serangan kuantum secara dinamis, serta integrasi kriptografi pasca-kuantum untuk meningkatkan ketahanan sistem terhadap potensi peretasan. Penelitian ini juga mengeksplorasi penggunaan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi pola ancaman dan memperkuat sistem secara otomatis seiring waktu. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu mendeteksi ancaman kuantum dengan tingkat akurasi yang tinggi dan menawarkan solusi yang dapat diimplementasikan pada berbagai platform siber. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah kemajuan signifikan dalam pengembangan sistem keamanan yang lebih tangguh dan adaptif terhadap evolusi komputasi kuantum, membuka jalan bagi terciptanya infrastruktur digital yang lebih aman di masa depan
Paradigma komputasi saat ini menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan skalabilitas daya dan efisiensi algoritma pada sistem klasik, di mana konsumsi energi superkomputer (HPC) meningkat secara eksponensial seiring kompleksitas masalah. Komputasi kuantum hadir sebagai solusi futuristik dengan efisiensi algoritma radikal, namun menghadapi paradoks inefisiensi termal pada sistem pendukung kriogenik. Penelitian ini merupakan studi komparasi yang mengevaluasi berbagai teknik efisiensi energi, mulai dari optimalisasi sistem pendingin hingga arsitektur perangkat keras. Hasil studi menunjukkan bahwa inovasi pada kabel koaksial superkonduktor dan kontrol optik dapat mengurangi beban panas secara drastis. Selain itu, penerapan algoritma hybrid seperti VQE dan QAOA serta peningkatan kesetiaan gerbang (gate fidelity) terbukti mampu menekan waktu operasional dan jumlah pengulangan komputasi, yang secara langsung meningkatkan efisiensi energi sistem. Studi ini menyimpulkan bahwa diversifikasi arsitektur berbasis fotonik dan ion terperangkap menawarkan jalur yang lebih berkelanjutan bagi integrasi teknologi kuantum dan AI di masa depan.
Teknologi blockchain telah muncul sebagai kekuatan transformatif dalam keamanan digital, menyediakan sistem terdesentralisasi dan aman untuk transaksi cryptocurrency, kontrak pintar, serta integritas data. Namun, hadirnya komputasi kuantum menimbulkan tantangan signifikan terhadap fondasi kriptografi blockchain. Mekanisme enkripsi klasik, termasuk RSA dan elliptic curve cryptography (ECC), rentan terhadap algoritma kuantum seperti Shor’s Algorithm, yang mampu memecahkan enkripsi kunci publik, dan Grover’s Algorithm, yang dapat melemahkan fungsi hash. Studi ini bertujuan untuk menilai dampak komputasi kuantum terhadap keamanan blockchain, membandingkan metode kriptografi klasik dengan metode pasca-kuantum, serta mengeksplorasi solusi untuk sistem blockchain yang tahan kuantum. Kami menggunakan kerangka analisis komparatif dengan mengevaluasi algoritma kriptografi klasik terhadap alternatif kriptografi tahan kuantum, seperti kriptografi berbasis kisi (lattice-based cryptography), algoritma berbasis hash (SPHINCS+), dan enkripsi berbasis kode. Temuan kami menunjukkan bahwa meskipun komputasi kuantum mengancam keamanan blockchain saat ini, metode kriptografi tahan kuantum dapat mengurangi risiko tersebut. Transisi menuju kriptografi pasca-kuantum sangat penting untuk mengamankan implementasi blockchain di masa depan, meskipun langkah ini menghadirkan tantangan dalam bentuk beban komputasi tambahan dan kebutuhan pembaruan jaringan. Studi ini menyimpulkan bahwa adopsi proaktif terhadap protokol tahan kuantum diperlukan untuk memastikan keberlangsungan jangka panjang teknologi blockchain di era pasca-kuantum
Perkembangan tekonologi komputasi kuantum membawa tantangan besar bagi sistem keamanan informasi konvensional yang selama ini mengandalkan kompleksitas matematis, seperti RSA dan ECC. Munculnya algoritma kuantum seperti Shor’s algorithm berpotensi mengancam eksistensi metode kriptografi klasik. Dalam konteks ini, kriptografi kuantum hadir sebagai solusi inovatif dengan memanfaatkan prinsip-prinsip mekanika kuantum untuk menjamin keamanan data secara teoritis, bahkan terhadap penyerang dengan daya komputasi tak terbatas. Penelitian ini membahas implementasi teknologi Quantum Cryptography, khususnya protokol BB84 yang telah ditingkatkan, sebagai metode distribusi kunci rahasia yang aman pada jaringan komputer. Fokus utama adalah pada keamanan pertukaran kunci Quantum Key Distribution (QKD) serta efisiensi algoritma dalam lingkungan jaringan dengan keterbatasan sumber daya. Selain itu, penelitian ini juga meninjau penerapan kriptografi kuantum dalam berbagai konteks jaringan masa depan, termasuk Wireless Body Sensor Networks (WBSN), jaringan 5G, dan post-quantum networks, serta potensi integrasinya dalam infrastruktur keamanan digital di masa depan. Hasil pengujian Avalanche Effect, Hash Generation Time, dan Hash Verification Time menunjukkan bahwa kriptografi kuantum mampu memberikan performa keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan metode kriptografi populer seperti RSA dan AES
Perkembangan dompet digital sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital global menghadirkan tantangan serius dalam hal keamanan, terutama dengan kemunculan komputer kuantum yang berpotensi menembus sistem enkripsi tradisional. Artikel ini mengkaji inovasi dompet digital berbasis kriptografi kuantum sebagai solusi strategis untuk mengantisipasi ancaman siber di masa depan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan metode studi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi dua pilar utama kriptografi kuantum, yaitu Quantum Key Distribution (QKD) dan Post-Quantum Cryptography (PQC), serta bagaimana keduanya diterapkan dalam sistem dompet digital hybrid. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi ini mampu meningkatkan keamanan hingga 99,8% dibandingkan algoritma konvensional, serta memberikan jaminan perlindungan jangka panjang terhadap data pengguna. Meskipun demikian, adopsi teknologi ini menghadapi tantangan berupa biaya tinggi, keterbatasan regulasi, dan kekurangan sumber daya manusia yang terampil. Di sisi lain, implementasi dompet kuantum diperkirakan akan memperkuat stabilitas ekonomi digital global, mendorong pertumbuhan pasar teknologi kuantum, serta membuka jutaan lapangan kerja baru. Temuan ini menggaris bawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat integrasi kriptografi kuantum dalam sistem keuangan digital secara luas.
Era komputasi kuantum membawa ancaman signifikan terhadap sistem kriptografi konvensional yang saat ini banyak digunakan untuk mengamankan jaringan Internet of Things (IoT), seperti RSA dan ECC. Algoritma Shor memungkinkan komputer kuantum memecahkan permasalahan matematis yang mendasari algoritma tersebut dalam waktu singkat, sehingga kerahasiaan dan integritas data pada perangkat IoT menjadi rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi dan kinerja Kriptografi Pasca-Kuantum (PQC) sebagai solusi pengamanan untuk jaringan IoT yang memiliki keterbatasan sumber daya, seperti daya komputasi, memori, dan konsumsi energi.Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi studi literatur terhadap algoritma PQC yang menjadi finalis dalam kompetisi NIST, khususnya algoritma berbasis lattice-based cryptography (seperti CRYSTALS-Kyber dan CRYSTALS-Dilithium) yang dinilai efisien. Analisis dilakukan dengan membandingkan parameter keamanan, ukuran kunci, ukuran ciphertext, serta kecepatan komputasi dari algoritma PQC terhadap algoritma kriptografi konvensional dalam simulasi lingkungan IoT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun algoritma PQC memerlukan ukuran kunci dan overhead komunikasi yang lebih besar dibandingkan algoritma konvensional, beberapa kandidat seperti Kyber menunjukkan kinerja yang cukup kompetitif dan memungkinkan untuk diimplementasikan pada perangkat IoT dengan kelas menengah ke atas. Namun, untuk perangkat IoT dengan sumber daya sangat terbatas (constrained devices), masih diperlukan optimalisasi lebih lanjut, baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak.Penelitian ini menyimpulkan bahwa transisi menuju kriptografi pasca-kuantum untuk IoT adalah sebuah keniscayaan. Rekomendasi yang diberikan mencakup perlunya adopsi standar PQC secara bertahap serta pengembangan protokol hibrida yang menggabungkan kriptografi klasik dan PQC selama masa transisi, guna memastikan keberlanjutan keamanan jaringan IoT di masa depan.